Selasa, 27 November 2012

demokrasi


Demokrasi merupakan kedaulatan rakyat, rakyat bisa membuat dan menetapkan aturan, hukum, dan system. Tidak ada demokrasi tanpa kedaulatan rakyat. Tidak mungkin semua rakyat bisa berkumpul setiap kali ingin membuat peraturan. Mungkin bagi negara yang jumlah penduduknya relatif sedikit hal ini kemungkinan bisa untuk dijalankan, tetapi bagi negara Indonesia yang penduduknya banyak hal ini tidak bisa dilaksanakan. Oleh karena itu rakyat memilih wakil untuk mewakili mereka untuk menetapkan dan membuat peraturan. Akhirnya terciptalah Dewan Perwakilan Rakyat atau lebih dikenal dengan singkatan DPR. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakh DPR sudah menjalankan amanat rakyat?  Apakah DPR sudah mendengar seruan para rakyat? Semua ini belum sepenuhnya oleh rakyat untuk rakyat. DPR masih belum sepenuhnya memperjuangkan keinginan rakyat. Rakyat masih banyak yang susah. Harusnya para wakil rakyat sadar akan tugasnya mengemban amanat rakyat yang ingin hidup sejahtera. Harus lebih memperhatikan rakyat kecil, tidak sibuk sendiri diatas. Kalau masih seperti itu bagaimana rakyat Indonesia bisa hidup sejahtera. 

Minggu, 04 November 2012

Yang Terlupakan



Pahlawan tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Setelah membaca puisi tersebut tidak terasa air mata pun jatuh membayangkan situasi pada saat itu, begitu terharu dan bangga. Pernah tidak kita berpikir dalam benak kita tentang nasib para pejuang kita sekarang. Melihat sekarang kita hanya bisa menikmati hasil dari perjuangan mereka. Dahulu mereka berjuang dengan titik darah penghabisan melawan penjajah demi anak cucu bangsa. Kita hanya mengingatnya ketika 17 agustus saja. Ketika lagu Indonesia Raya di kumandangkan di gedung DPR, apa pemerintah lupa akan perjuangan mereka. Kini mereka yang menghancurkan bangsa. Pemerintah seakan-akan lupa akan nasib para veteran yang masih hidup hingga sekarang. Tidak ada perhatian pemerintah, penghargaan dari pemerintah membuat mereka tidak bisa menikmati masa senjanya. 
Kehidupan para veteran Indonesia sungguh sangat miris, betapa tidak mereka tidak mendapat jaminan hidup dari pemerintah. Banyak para veteran Indonesia yang menjadi tukang kebun, tukang sol sepatu, bahkan ada yang menjadi pemungut sampah. Seperti Suopranoto laki-laki yang berusia 80 tahun dan  Opa Jack Kandow pejuang kemardekaan yang berusia 78 tahun asal Rotahan Minahasa, pada perang kemardekaan sebagai pembawa surat rahasia untuk menyampaikan strategi perang Jepang Belanda. Di kehidupanya yang sekarang beliau menjadi tukang kayu pembuat meja dan kursi. Sungguh sangat menyedihkan mendengar hal itu, mereka yang seharusnya menikmati masa senjanya kini harus bekerja keras menghidupi keluarganya. Bukankah bangsa akan menjadi bangsa besar jika suatu bangsa bisa menghargai jasa para pahlawannya.

Inilah potret sebagian gambar nasib pahlawan kita sekarang

mereka yang hanya muncul di televisi ketika acara 17 agustus 
 


mereka yang diusianya yang senja hanya bisa menerima nasib



mereka hanya meminta bisa hidup tenang dan sejahtera di hari senja nya
 




Dan inilah perbandingan para pejuang kemardekaan dengan pemerintah yang seharusnya meneruskan perjuangan mereka demi bangsa

inikah pengemban amanat Bangsa 



mereka berjuang menuntut hak mereka tidak seharusnya mereka sampai menuntut



mereka harus bekerja keras di hari tuanya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup



sedangkan para petinggi negara meminta naik gaji dan fasilitas mewah



Melihat perbandingan tersebut sungguh sangat miris, padahal seandainya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk mensejahterakan para veteran jauh lebih sedikit daripada harus memenuhi kebutuhan para petinggi negara. Belum tentu becus kerja sudah meminta fasilitas mewah yang uangnya berasal dari rakyat. Daripada dibuat untuk membangun toilet DPR yang menghabiskan dana milyaran  lebih baik dan lebih bermanfaat kalau dibuat untuk mensejahterakan para veteran toh, itu juga dana dari rakyat. Meskipun ada juga para veteran yang mendapat dana pensiun tapi itu jauh dibawah UMR mereka hanya diberi uang Rp 700 ribu per bulan.  Alhasil mereka hanya bisa mengeluh dan meratapi nasib, mereka yang dahulu berjuang demi kemerdekaan bangsa hanya dihargai dengan harga yang murah dan tidak sepantasnya.